---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

16 Mei 2011

Rindu Kepada Rasulullah

Rindu Kami Padamu Ya Rasul, Rindu Tiada Terperi
"Aku adalah pemimpin manusia di hari kiamat kelak".
(Dalam suatu jamuan hidangan, Rasulullah bercerita)
Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu sampai terakhir. Mereka di awasi oleh pengawas, mereka menderita kepayahan dan mencapai puncak kesusahan. Matahari di dekatkan, serasa tidak kuat memikul tanggungan pada hari itu. Mereka mencari tempat berlindung dan orang yang bisa menolong.

Datanglah mereka kepada Nabiyullah Adam, yang beliau punya keistimewaan dicipta Allah pertama kali. Bahkan malaikat pun bersujud padanya. Allah juga telah memasukkan Nabiyullah Adam ke syurga. Jawab Nabi Adam:
"Sungguh Tuhanku marah pada hari ini dengan kemarahan yang tidak seperti biasa. Sedangkan diriku telah melanggar perintahNya dengan mendekati pohon khuldi. Pergilah kalian ke Nabi Nuh".

Mereka para manusia bergegas mencari dan meminta pertolongan Nabi Nuh, seorang Nabi dan Rasul pertama. Seorang hamba yang mendapat predikat yang pandai bersyukur kepada Tuhan. Jawab Nabiyullah Nuh:
"Sungguh Tuhanku pada hari ini telah marah yang belum pernah marah seperti ini sebelumnya. Sedang aku telah berbuat kesalahan dengan membunuh jiwa yang tidak diperintahkan kepada saya. (Banjir bandang seantero jagat) yang atas doa nabi Nuh supaya Allah menenggelamkan umatnya yang jahat.

Demikian para manusia datang kepada Nabi Ibrahim, Nabiyullah dan kesayanganNya, kepada Nabi Musa, Rasulullah dan kalamullah, Nabi Isa Kalimatullah. Para Rasul dan Nabi pilihan tersebut tidak sanggup menolong para umat manusia.

Lalu datanglah manusia itu kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Meminta syafaat pertolongannya. Kemudian Kanjeng Nabi berangkat dan datang bersujud di bawah arasy. Allah pun membukakan kepada beliao pujian-pujian dan sanjungan-sanjunganNya, yang tidak pernah seorang pun mendapatkan keistimewaan itu.

Lalu dikatakan kepada Kanjeng Nabi:
"Hai Muhammad angkatlah kepalamu! Mintalah, Engkau akan diberi! Berilah syafaat pertolongan engkau diberi wewenang"

Kemudian Rasulullah Muhammad berkata:
"Ummatku ya Rabb.. Umatku.."

Lalu difirmankan:
"Hai Muhammad masukkanlah dari umatmu, orang-orang yang tidak ada perhitungan atas mereka dari pintu kanan diantara pintu-pintu syurga. Sedangkan umat selebihnya masuk dari pintu-pintu selain pintu kanan itu."

Jarak antara dua sis pintu itu berada antara kota Makkah dan kota Hajar, antara Makkah dan Bashra (Kota dekat Damaskus).

Rindu kami padamu ya Rasul. Rindu tiada terperi. Berabad jarak padamu ya Rasul seakan dikau disini. Kecintaan Kanjeng Nabi kepada kita umatnya semoga membawa kita menjadi dekat ke dalam golongannya. Bersalawatlah kepadanya, ikatlah diri kita dengan cinta dari satu-satunya pemberi pertolongan kelak di hari nanti.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]