---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

19 Juli 2015

Islam Kok Nusantara.


Islam Nusantara

    وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ--- آل عمران/١٥٩
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu
Terlalu panjang orasi yang kudengar saat khutbah Idul Fitri mengatakan Islam nusantara adalah bagian dari begundal setan.

Apapun keterangan panjang lebar tentang ajaran Islam yang selama ini kita dengar kemudian yang baru-baru saja belakangan, intinya bagi kita, biarlah Islam Indonesia ala nusantara tidak ala arabika, ala amerika dan jangan sampai ala kadarnya. Sejuk, aman, damai, harmonis, madani. Ibadah tenang, bernegara nyaman, menikmati alam.

Jangan terprofokasi oleh proklamator yang punya kepentingannya sendiri memanfaatkan semangat yang membara untuk membakar Indonesia. Terbukti Islam nusantara ala Indonesia telah berabad-abad datang tanpa konflik, proses asimilasi yang tidak akan ditemukan oleh dakwah garis keras di timur tengah. Biarkanlah Indonesia demikian. Ini nikmat Allah yang patut kita syukuri. Jangan sampai Islam ala timur tengah menggeser ketentraman Indonesia. Kalau mau eror, erorlah di sana, jangan bawa ke Indonesia tercinta.

Tidak ada paksaan dalam Islam. Sekalipun Anda paksa, Anda tidak akan bisa memberi hidayah. Hidayah itu anugerah dari hati yang indah.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]