---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

06 Juli 2015

Sedikit-sedikit Bid-ah

Bukanlah hal yang baru jika belakangan ini banyak yang menyuarakan kembali kepada Alquran dan Alhadits. Dengan berbagai argumen seakan ingin meluruskan ajaran-ajaran para wali yang telah berhasil memasukkan syariat di banyak kegiatan budaya lokal. Budaya yang tadinya berisi syirik karena ritualnya salah niat maupun kegiatannya yang tidak dibolehkan dalam Islam menjadi sesuai syariat dan tidak syirik tanpa merasa diusik.

Bintang Papua
Misalnya selamatan 7 hari, tahlilan, kirim doa kepada leluhur, nasi tumpeng, ketupat dan lain-lain selalu dianggap sesat karena ajaran tersebut dianggap ritual agama lain dan diajarkan oleh agama lain berdasarkan ini itu, kitab itu dan ini. Sebenarnya sesuatu yang simpel diperumit sendiri oleh para yunior-yunior yang entah seper berapa ilmunya jika dibandingkan dengan para wali yang sudah jelas berhasil berdakwah di Indonesia sebelum mereka para yunior unjuk gigi. Para Wali berhasil mengislamkan 90% penduduk nusantara, apakah ingin belakangan kemudian para hadirin membid'ahkan 90% tersebut?

Selamatan 7 hari dan lain-lain. Tahlilan, nasi tumpeng, ketupat, yasinan kirim doa termasuk ada dalam hadits Nabi 3 amal yang tidak terputus walau orangnya sudah meninggal yaitu anak sholeh yang mendoakan orang tua. Hadis nabi juga memerintahkan sodakoh dan bersosialisasi. Adapun kitab kungfu ada ajaran seperti itu atau bukan Emang Gue Pikirin? Simpel sajalah dalam berfikir tidak perlu membahas bungkusnya tetapi lihatlah isinya.

Mau ketupat, mau nasi uduk atau nasi tumpeng, mau 7,8,9,10,1000,2000 hari berturut-turut bahkan selamanya melakukan ritual selamatan tidak masalah. Asal isi dari kemasan itu sudah sesuai dengan Alquran Hadist yang belakangan digembar gemborkan untuk kembali di media sosial. 😁😁

Jika ada adat istiadat yang belum sesuai syariat, kitalah yang merangkul dan mengisinya dengan syariat. Dengan merangkul bukan memukul. Karena masalah hati jika sakit akan sulit mendapatkan simpati. Hikmah dan mauidhoh hasanah seperti tradisi bakar batu memakai berlauk Babi diganti bakar batu dengan hewan Kambing. Tradisi adat istiadat lestari, dan ajaran Islam merasuk dengan harmoni.

Kita hanyalah sebutir debu tak berilmu. Salah guru bisa gagu. Jika setuju dengan catatan ini, aku ngguyu. Jika tidak setuju, aku gak nesu. Yang penting kita tetap bersaudara sesama muslim, paling tidak sesama bangsa Indonesia. Lautan ilmu tak bertepi, membuka cakrawala pandang terhadap ilmu itu sendiri.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]