---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

04 Juli 2015

Tadarrus

AlQuran adalah pedoman
Malam semakin larut, dan keheningan mulai merajut menggantikan kebisingan siang. Suara alquran masih terdengar bersautan di beberapa surau.

Dulu menurut hikayat yang kubaca, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mengupgrade kefasihan bacaan Alqur'an. Dari malaikat Jibril kepada Rasulullah. Dan Rasulullah kepada para shahabat. Shahabat terhadap shahabat yang lain. Ramadhan waktu yang tepat untuk membetulkan bacaan, mereplace tajwid dan saling mengingatkan sesama peserta tadarrus. Mengkoreksi dan kembali mengkaji tidak hanya bacaan tetapi juga isi yang terkandung di dalamnya.

Saat ini, suara pengeras suara memperjelas eksistensi Ramadhan. Darusan di kota, kampung, pedalaman selalu ramai. Namun beberapa diantaranya terlihat hanya menjadi formalitas. Tidak ada saling mengingatkan jika salah tajwid. Merasa rikuh mengkoreksi jika tokoh masyarakat dalam membaca kurang pas artikulasi sin dan shod. Bahkan merasa tidak berani mengingatkan jika bacaan ikhfa dari sang kiai tidak mencapai satu alif atau dua setengah alif kadar panjang madnya. Darrusan berjalan tanpa komando sang pencerah.

Yang menggembirakan banyak sajian makan bahkan berlebih di darrusan itu. Sampai-sampai oknum peserta memakan sajian itu saat peserta lain masih mengeratkan pegangan mikroponnya agar suara terdengar jelas ke segala penjuru.

Di majlis lain darrusan dikaji huruf demi huruf menggali makna dan arti. Di jamaah sebelah asal sudah berhasil membaca satu juz lantang memakai toa sudah berhak pulang membawa pahala digantikan yang lain mengantri.

Ramadhan demi Ramadhan berlalu, tadarrus lebih banyak menjadi tradisi. Yang belum berhasil menginstal ulang kerusakan sistem bacaan Alqur'an kita. Dan belum mampu menemukan kemukjizatannya. Selain keberkahan yang tersisa dari para pedarrus yang ada keiklasan dan sungguh-sungguh bertadarrus diantara mereka yang mencari sensasi, yang unjuk gigi dengan pengeras suara agar dibilang rajin. Pedarrus penyelamat itu samar menyelinap di dingin yang semakin merayap. Di kekhusyukan alam lain menuju Lailatul Qodar.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]