---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

04 Agustus 2015

Islam Ya Islam

Cinta Islam Nusantara
Islam ya Islam. Air ya air. Gelas ya gelas. AIR GELAS dengan GELAS AIR juga tidak sama. Istilah Islam nusantara  tidak ada yang perlu diributkan. Karena tidak ada yang salah dikeduanya.

Air di gelas, air di baskom dengan air di teko juga beda. Berbeda cara akulturasi dan asimilasinya.
Dan sangat manis dan cuantik sekali, Islam masuk ke nusantara sukses dengan akulturasi dan asimilasi itu.

Belakangan ini, masyarakat Indonesia begitu sensitif. Cuman berbeda istilah sudah emosi, berbeda bungkus sudah saling caci. Diskusi maunya merasa paling Islami. Sehingga air akan kembali sebagai air. Gelas tetap gelas, baskom tetap baskom. Kompor tetap kompor. Air akan selalu menjadi air meskipun dimasukkan ke wadah yang berbeda nama. Islam akan tetap menjadi Islam walau merasuk ke seluruh nusantara. Dan terus belajar dari guru yang tepat akan membuat kita semakin bijak bersikap. 👥👤

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]