---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

21 Desember 2015

Meneladani Rasulullah

Harta itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan cepat pergi.
Alas tidur Rasulullah hanya di atas tikar terbuat dari pelepah kurma


Heppi Maulidir Rasul.
Rasulullah adalah panutan yang setiap Rabiul Awal kita peringati dan kita dengung-dengungkan kita teladani. Namun yang sangat membuat lidah kita kelu adalah ketika kita dihadapkan kepada kenyataan, kita belum bisa mengikuti perilaku beliau terhadap dunia.
Rasulullah adalah entrepreneur yang sangat sukses, beliau pelaku bisnis ekspor dan impor yang handal yang tentu saja kaya raya diusia dini. Mahar pernikahan kepada istri-istrinya pun 500 dirham, ada yang mengatakan 20 ekor onta. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim). Belum lagi Beliau mendapatkan bagian ghonimah 1/5 setiap peperangan. Tercatat sekitar 10 tahun beliau tinggal di Madinah, terjadi 64 kali peperangan: 26 peperangan dipimpin Rasulullah sendiri dan selebihnya adalah pasukan utusannya.

Terbayang berapa milyar bahkan mungkin berapa trilyun harta Beliau. Namun alas tidur beliau hanya di atas tikar terbuat dari pelepah kurma. Sehingga, terlihat meninggalkan bekas di lambungnya. Saat beliau wafat pun, hanya meninggalkan keledai putih yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).

Lalu kemanakah semua kekayaan Rasulullah itu? Jawabnya kita semua tahu, semuanya didepositokan untuk Allah. Untuk kemaslahatan ummat dan perjuangan Islam.

Sehingga seringkali kita bertanya kepada diri sendiri pada setiap peringatan maulid Rasul, bisakah kita ittiba’ kepada Rasul bekerja dan membelanjakan kekayaan untuk agama, bukan bekerja dan mendapatkan harta dari agama? Jika tidak bisa membelanjakan keseluruhan, paling tidak sebagian atau sebagiannya sebagian. : ) Atau bisakah kita dengan lantang menyuarakan disetiap peringatan maulid Nabi: "Mari kita berderma ala Rasul". 😊

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]