---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

25 Februari 2016

Ikut Ulama Mana?

Kembali Ke Quran Hadits
Bukan masalah ikut ulama' dari daerah mana. Arab atau selain Arab, bukankah hadist Nabi tidak mengatakan ikutlah hanya ulama Arab? Justru menunjukkan keilmuannya jika ada ulama Indonesia dapat menjadi bagian dari ulama besar negeri Arab.

Diantaranya adalah warga Indonesia keturunan Minangkabau, asal Sumatera Barat, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang pernah menjadi imam, khatib, dan guru besar di Masjidil Haram, pada akhir abad ke-19. Syaikh Ahmad lahir pada 26 Juni 1860 dan pergi ke Mekkah pertama kali saat usianya baru 9 tahun. Dia mendapat gelar mufti bermahzab Syafi'i yakni ulama yang memberikan wewenang untuk memberikan fatwa. Muridnya mencapai ratusan ribu orang. Dua di antaranya adalah Kyai Haji Hasyim Asy'ari yang mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah.
Syaikh Ahmad sangat menguasai ilmu fiqih. Tak hanya itu, ia juga menguasai sejarah, aljabar, ilmu falak, dan geometri. Sejak kecil, beliau sudah khatam dan hafal beberapa juz Al-Quran. Beliau meninggal di usia 55 tahun, pada 13 Maret 1916.
Tidak masalah engkau pilih yang mana, yang penting ulama yang bener dan pinter. Silsilah keilmuannya nyambung ke Baginda Rasulullah.
Sebenarnya jika ada orang yang mengatakan kembalilah kepada AlQuran dan Hadist dan menyalahkan masyarakat yang telah mengikuti para ulamanya yang terdahulu, sebenarnya ia ingin mengatakan ikutilah guru saya, namun dengan retorika kembali kepada AlQuran dan Hadits. Sama juga ikut gurunya gurunya guru juga, cuman dia menganggap yang pasti benar adalah kelompoknya. Bisa jadi yang gurunya guru itu terputus sanadnya tidak sampai ke Rasulullah.


Pada dasarnya siapapun guru kita, pasti mengamalkan Alquran Hadist dari Guru, walau guru itu memfatwakan ikut AlQuran dan sunnah langsung. Pandai-pandailah memilih Guru. Ikutlah Guru yang jujur, walau berilmu agama tinggi tetap ikut pendapat ulama yang lebih tinggi lagi ilmunya. Bukan yang meniadakan peran pengajar AlQuran dan hadist sebelumnya lalu seakan bisa menggali hukum secara langsung.



0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]