---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

20 Desember 2016

Uang Baru

Uang Baru
Apabila suatu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya, yang terjadi bukan negara itu menjadi kaya, tetapi justru akan semakin miskin. Karena, ketika jumlah uang yang beredar semakin banyak, harga-harga barang akan melambung tinggi, dan inflasi terjadi. Akibatnya, meski uang dicetak terus-menerus, uang itu tidak bisa disebut kekayaan, karena nilainya terus merosot turun. Indonesia pernah melakukan pencetakan uang dalam jumlah banyak dan kurang antisipasi dalam hal lain, pada masa Presiden Soekarno. Hasilnya adalah inflasi. Semakin banyak uang dicetak, harga barang semakin tinggi, dan terjadi hiperinflasi. Sehingga waktu itu menjadi salah satu sebab adanya demo Tritura (Tiga tuntutan rakyat), yang salah satunya berisi turunkan harga.

Mencetak uang yang berlebihan memang terasa jalan yang baik bagi awam, tetapi sebenarnya dalam tiap uang kertas yang dicetak ada penjamin dari uang tersebut biasanya berupa emas, karena nilainya yang lebih stabil. Misalnya berapa uang dikeluarkan Rp 1 trilyun, maka BI harus menjamin mata uang yang beredar di pasaran dengan emas seharga uang kertas yang tersebar. Setelah uang pecahan dengan desain baru beredar, uang yang lama juga masih berlaku. Namun secara perlahan, BI akan mengumumkan uang pecahan mana dan emisi tahun berapa yang akan ditarik. Bila sudah demikian, maka masyarakat diminta untuk menukarkan uang lamanya di seluruh cabang BI dalam jangka waktu maksimal 10 tahun setelah pengumuman.

Belakangan ini, uang dapat menjadi isu yang meresahkan dengan diisukan
ada logo palu arit pada uang rupiah kertas pecahan Rp 100.000 tahun emisi 2014. BI menjelaskan, setiap uang kertas rupiah yang masih berlaku mulai pecahan Rp 1.000 sampai Rp 100.000 itu, terdapat unsur pengaman yang disebut sebagai rectoverso atau gambar saling isi. Adapun rectoverso pada uang kertas rupiah dapat dilihat pada bagian depan uang di sudut kiri atas di bawah angka nominal. Selain itu, juga dapat dilihat pada bagian belakang uang di sudut kanan atas di bawah nomor seri. Rectoverso adalah suatu teknik cetak khusus pada uang kertas di mana pada posisi yang sama dan saling membelakangi di bagian depan dan bagian belakang uang kertas terdapat suatu ornamen khusus seperti gambar tidak beraturan. Namun demikian, apabila rectoverso pada uang kertas diterawang ke arah cahaya maka akan terbentuk suatu gambar yg beraturan.
Hingga kini, kata Joni, rectoverso adalah unsur pengaman yang sulit dipalsukan. Selain digunakan pada uang kertas rupiah, unsur pengaman Rectoverso juga digunakan oleh banyak negara. Yaitu, uang kertas ringgit Malaysia (membentuk ornamen bunga) dan uang kertas euro (Membentuk ornamen nilai nominal).

Pengamanan lainnya dalam pembuatan uang adalah Fluorescent Ink. Tinta yang akan berpendar atau bercahaya bila dilihat dengan mempergunakan lampu ultraviolet, itulah sebabnya tinta ini disebut sebagai Fluorescent Ink.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]