---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

18 Mei 2017

Wirid Setelah Sholat Tarawih Dan Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَوْجُوْدِ

Subhanal malikil quddus, x3
Subhanal malikil ma’bud, x3
Subhanal malikil maujud, x3

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْحَىِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِى لاَيَنَامُ وَلاَيَمُوْتُ وَلاَيَفُوْتُ هُوَا اَبَدًا اَبَدًا

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَاِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّبِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ

Allohumma innaka afuwun karim Tuhibbul affwa fa’fu’an
na 3x
Allohumma innanas aluka ridhoka wal jannah, wana’udzubika min sakhotika
wannar 3x
Astaghfirullahal ‘adzim 3
x
Afdlolu dzikri fa’lam annahu
Lailaha illalloh 11x /21x. Muhammadar RosulullohLailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdlolimin 3x
Ya Allah biha, Ya Allah biha, Ya Allah bihusnil khotimah 3xNIATDOA WITIR

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]