---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

18 Desember 2017

Konfercab PCNU Kota Tarakan 18 Robi'ul Awal 1439 H / 17 Desember 2017

KONFERCAB Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama bertempat di meeting room Hotel Duta,
Ahad, 17 Desember 2017 bertepatan dengan HUT Kota Tarakan telah digelar KONFERCAB Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama bertempat di meeting room Hotel Duta, tidak kurang dari 150 Tamu Undangan dan peserta konfercab yaitu jajaran PCNU dan MWCNU termasuk semua Banom dan Lembaga NU hadir dalam pembukaan Konfercab.

Konfercab ini juga dihadiri oleh Bapak Walikota bersama beberapa perwakilan FKPD termasuk Kemenag, Kapolres Tarakan, Komandan Batalyon 613 Raja Alam, Komandan Lantamal XIII, Komandan Lanud,  Serta Tokoh Masyarakat.

Ketua panitia menekankan pada musyawirin (Peserta) untuk menjaga ketertiban dalam bermusyawarah karena budaya keberkahan NU tidak terletak dari siapa ketuanya melainkan menjaga kayfiyyatnya yg sesuai AD/ART. Ketua juga meyakini bahwa acara konfercab yang bertepatan dengan maulid Nabi menjadi simbol tonggak kejayaan NU di kota tarakan.

Walikota Tarakan Bapak Ir. Sofyan Raga dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah dalam hal ini mengucapkan terima kasih dan selamat atas terselenggaranya Konfercab PCNU, harapan kedepan bagaimana pemerintah dan pengurus cabang NU bisa membangun komunikasi agar setiap kegiatan ada sinkronisasi antara PCNU dan pemerintah.

Dalam Konfercab ini Rois dipilih dengan sistem AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi) dan sistem ini baru periode ini digunakan di kota Tarakan. Dalam Khutbah Iftitahiyah nya Kyai Ahmad Suprapto S.Pd. M.Pdi. selaku Rois PCNU Tarakan menyampaikan Proses pemilihan Rois dengan menggunakan sistem AHWA ini pernah dilakukan pada Muktamar NU ke 20 Situbondo. Namun baru pada Konbes NU saat zaman KH.Sahal Mahfudh baru dimatangkan.

Senada dengan Rois PCNU Tarakan ketua pengurus Wilayah NU (PWNU) Bapak Kyai Ridwan Labago, pemilihan Rois Am dengan menggunakan sistem AHWA ini sangat tepat agar tidak lahir Rois Am yang tidak sesuai harapan dan prinsip Nahdlatul Ulama.

Pemilihan PCNU ini dimulai dengan beberapa agenda sidang. Sidang I membahas tentang mekanisme pemilihan rois syuriah dan tanfidziyah yang dipimpin oleh Ustadz Setiyawan, ST. Didampingi presidium II Drs. Ustadz Abd. Rahim ( PCNU) Presidium III Bapak Alwan Saputra (PWNU Kaltara) dan Ustadz H.Sultan Halim,S.Ag (Sekjen PCNU) Sebagai Sekretaris sidang. Dan menghasilkan nama-nama AHWA yang disepakati antara lain : Kyai Ahmad Suprapto S.Pd. M.Pdi., Drs. KH. Abd. Samad M. Lc., Bapak H.Muksin, Bapak H. Amiruddin dan Bapak Ustadz Jakfar Sodiq. Dan AHWA memilih berdasarkan kesepakatan ketua Rois syuriah PCNU Kota Tarakan masa khidmat 2017-2022 adalah Bapak H. Muksin.
Memasuki sidang berikutnya yaitu pemilihan ketua Tanfidziyah  yang dipimpin oleh Drs. Ustadz Abd. Rahim ( PCNU), suara yang diperebutkan berjumlah 5 suara berasal dari 4 MWCNU dan 1 dari PCNU. Pemungutan suara dilaksanakan setelah terjadi deadlock musyawarah mengenai ketua NU. Dalam pemungutan suara tersebut Drs. KH. Abd. Samad M. Lc. kembali dipercaya untuk menjadi ketua tanfidziyah Untuk 5 tahun kedepan.

Dokumen & Liputan Lesbumi Tarakan

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]