---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

06 April 2018

Kisah Rasulullah Membina Peleceh Azan

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy -
Syaikh Sayyid Muhammad Fadil Al-Jailany Al-Hasany
Dikisahkan di dalam kitab Al-Isti’ab bahwa ada seorang laki-laki bernama Abu Mahdzurah. Suatu ketika dia keluar bersama kurang lebih 10 orang sahabat-sahabatnya lalu di tengah jalan berpapasan dengan pasukan Baginda Rasulullah SAW yang baru saja pulang dari Hunain. Kemudian salah seorang muadzin Rasulullah SAW mengumandangkan adzan sholat sebagai tanda masuknya waktu sholat.

Abu Mahdzurah dan kawan-kawannya yang mendengar suara itu lalu meniru dengan tujuan mengejek dan melecehkan adzan tersebut. Mendengar suara ejekan tersebut Rasulullah langsung mengutus pasukannya agar menjumpahi sekawanan orang tersebut yang diantara mereka terdapat Abu Mahdzurah. Maka dipanggillah sekelompok orang itu ke hadapan Baginda Nabi SAW.

Di hadapan Baginda Nabi, dengan rasa takut hingga gemetar tubuhnya, di luar dugaan, Rasulullah SAW justru memyambutnya dengan penuh keramah tamahan.
فقال ايكم الذى سمعت صوته قد ارتفع
Dengen lembut Nabi bertanya “Siapa diantara kalian yang tadi terdengar suaranya begitu keras?”.
فاشار القوم كلهم الي وصدقوا
Kemudian kawan-kawannya menunjuk kepada Abu Mahdzurah, seolah mereka sepakat bahwa yang meniru dan mengejek suara adzan tadi adalah Abu Mahdzurah. Padahal banyak diantara mereka yang juga ikut-ikutan. Namun Abu Madzkurah menjadi korban atas apa yang mereka lakukan.

Selanjutnya, Nabi mengutus pasukan untuk menangkap dan menawan orang-orang tersebut terutama Abu Madzkurah.
ثم قال قم فاذن بالصلاة
Kemudian Nabi bersabda kepada Abu Madzkurah
“Berdirilah, kumandangkan adzan untuk melaksanakan sholat!”
فقمت، ولا شيء أكره إليَّ من رسول الله صلى الله عليه وسلم
Kemudian Abu Mahdzurah berdiri mengikuti perintah Nabi dan saat itulah tiba-tiba hilang rasa benci kepada Nabi SAW.

Yang tadinya membenci Nabi, memusuhi kaum muslimin bahkan melecehkan adzan tapi begitu dipanggil oleh Nabi, diminta mendekat dan diperintah untuk mengumandangkan adzan, tiba-tiba lenyaplah rasa kebenciannya kepada baginda Nabi SAW.

ولا مما يأمرني به
Dan juga tidak merasa benci kepada apa yang diperintah.
Abu Madzkurah tak membenci saat ditangkap dan diminta mendekat hingga ia berdiri dan diperintah untuk mengumandangkan adzan. Karena baginya perintah itu merupakan perintah yang harus dita’ati. Sehingga ia melaksanakan perintah tersebut dengan sepenuh hati.
فقمت بين يديه، فألقى علي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – التأذين هو بنفسه
Kemudian aku berdiri di depan Nabi. Kepadaku Nabi mengajarkan cara mengumandangkan adzan. Beliau sendiri yang mengajarkan secara langsung.

فقال: قل: الله أكبر الله أكبر
Nabi bersabda “ucapkanlah Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Maka kemudian Abu Madzkurah mengikutinya dengan penuh ketaatan.
فذكر الأذان
Hingga Nabi menyelesaikan pelajaran adzan dan diikuti oleh Abu Madzkurah dengan penuh ketenangan, keimanan dan penuh keridhoan tanpa paksaan.
ثم دعاني حين قضيت التأذين فأعطاني صرة فيها شيء من فضة
Kemudian Nabi memanggilku ketika selesai membacakan adzan. Lalu Nabi memberikan hadiah sejenis perhiasan dari perak.

ثم وضع يده على ناصيتي، ثم من بين ثديي
Kemudian Nabi meletakkan tanganya yang harum semerbak bunga mawar di atas ubun-ubunku kemudian mengusap dadaku.

ثم على كبدي، حتى بلغت يد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سرتي
Kemudian di bagian dadaku, hingga tangan Rasulullah SAW mengusap sampai bagian perutku.

ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “بارك الله فيك، وبارك الله عليك
Kemudian Rasulullah SAW berdoa, Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu.

فقلت: يا رسول الله مرني بالتأذين بمكة، قال “قد أمرتك به”
Aku menjawab “Ya Rasulullah perintahkan padaku untuk menjadi juru adzan di kota Mekah”.

Inilah peristiwa yang sungguh luar biasa. Seorang Abu Madzkurah yang semula membenci Nabi, Syari’at Islam bahkan membenci adzan. Tapi dengan kelembutan baginda Nabi, ketulusannya, usapan lembut tangannya dan dengan do’a barokah Beliau, Abu Madzkurah justru beriman bahkan menjadi juru adzan di kota Mekah atas perintah Nabi di bawah kepemimpinan Gubernur Attab bin Asid sebagai wakil Rasulullah di kota suci Mekkah saat itu.
Wakila, Abu Madzkurah adalah orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi’i.
Dikisahkan pula, Abu Mahdzurah setelah dibelai rambutnya oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, ia tidak pernah mencukur rambutnya seraya berkata : “Demi Allah saya tidak akan pernah mencukur rambut saya ini sampai akhir hayat”.
——————–
Disarikan dari Khutbah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Jumat, 6 April 2018. Di Masjid Jami’ Ibrahimy Sukorejo – Situbondo.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]