---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

17 Juli 2018

Pengajian Akbar Halal bi Halal Dan Pelantikan PCNU Tarakan

Kebersamaan warga Paguntaka di majlis ilmu pengajian akbar halal bi halal dan pelantikan pengurus NU Tarakan
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

---Dengan ilmu agama, maka kita dapat mengetahui mana yang hak dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan. Dengan sebab itu maka iman akan bertambah ketika syubhat tersingkirkan.---
Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A. memberikan tausiyyah pada pengajian akbar Halal bi Halal sekaligus pelantikan pengurus Baru di halaman masjid Almaarif Tarakan, Rabu (17/7) yang dihadiri oleh Kapolda Kaltara, Walikota Tarakan, unsur TNI, keluarga besar PC NU Tarakan termasuk para Badan Ortonom NU dan ribuan masyarakat Tarakan.

Romo Kiai Said Aqil Siradj, menerangkan bahwa acara halal bi halal adalah murni dari Indonesia.
"Di Arab, sehabis sholat bersalaman tidak ada. Yang ada di Indonesia. Minimal delapan orang diajak bersalaman. Kanan dua, kiri dua, belakang dua dan depan. " Itulah tandanya orang Indonesia rajin halal bi halal.

'Ied artinya kembali, alfitri itu suci. Bersih kembali tak punya dosa karena selesai berpuasa. Bahasa Jawanya, lebar. Yang berarti, habis atau selesai. Lebaran artinya telah selesai berpuasa. Kalau sudah "Lebar/ selesai" maka akan "Luber/banjir". Banjir rohmat, banjir ampunan, banjir keberkahan. Kemudian dengan Allah dosanya hilang, dengan sesama manusia dosanya hilang maka namanya "Lebur". Kalau sudah lebar, luber dan lebur maka diri kita sudah dilabur. Diri kita sudah diwarnai dengan warna yang indah. Pribadi kita menjadi pribadi yang baik, pribadi yang indah.

Untuk menjaga itu semua maka Nahdlatul Ulama harus mempunyai dua hal.
Pertama, Ruhuddin". Orang Nahdlatul Ulama, harus membangun spririt agama. Memperjuangkan agama. Bahwa agama Islam adalah agama yang mulia, suci maka cara membelanya juga harus dengan cara yang baik.
Dicontohkan oleh Beliau dengan mengibaratkan sebuah Bis yang bagus dan nyaman jika ditawarkan kepada penumpang dengan kasar lebih-lebih memakai ancaman, maka bisa dipastikan para penumpang tak akan mau menaikinya.

Yang kedua, "Ruhul wathoniyyah". Spirit kecintaan kepada tanah air. Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan Negara kita sebagaimana resolusi jihad yang di kumandangkan oleh para Ulama Pejuang pendahulu.
Pengunjung sedang khusuk mendengarkan

Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A. yang juga Guru Besar Ilmu Tasawwuf UIN Surabaya juga menyampaikan pentingnya seseorang yang belum mahir berbicara agama untuk tidak dengan mudah merasa bisa menguasai ilmu agama. Merasa hebat dan berhak menyampaikan ilmu agama.

"Saya membaca buku tentang penyakit jantung, setelah faham kemudian memasang di plang nama dengan tulisan; dr. Jantung Said Agil. Benar tidak macam ini?" Tanya Kiai Said.

Maka yang belum memahami agama apalagi hanya belajar sebentar, jangan bangga diri mengaku sebagai ahli agama. Belajar agama boleh, tapi merasa ahli dalam sesuatu yang tidak pada tempatnya itu tidaklah baik.

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]