---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

31 Maret 2021

HUKUM MELETAKKAN MUSHAF AL-QUR'AN DI LANTAI

HUKUM MELETAKKAN MUSHAF AL-QUR'AN DI LANTAI

Banyak kita temui klau ada undangan,slah satu dari kita baik sahabat atau pun teman meletakkan mushaf Al-Qur'an di lantai..

Imam Nawawi dalam kitab مجموع شرح المهذب  mengatakan bawha para ulama sepakat untuk menghormati dan menjaga mushaf al Qur'an
اجمع العلماء على وجوب صيانة المصحف واخترمه فلو القاه والعياذ بالله في قاذورة كفر
Ulama sepakat atas kewajiban menjaga dan menghormati mushaf Al-Qur'an

Dan dalam kitab bujairimi
ويحرم وضع المصحف على الارض بل لابد من رفعه عرفا ولو قليلا
Dan haram meletakkan mushaf Al-Qur'an di atas bumi/lantai dan wajib mengangkat nya  di tempat yg tinggi apabila Al-Qur'an tsb ada di bawah 

والله اعلم

Penulis : Anam Az-Zaheery

0 komentar

Berkunjung ke FP nucare lazisnu tarakan
"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]