---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

24 April 2021

KESALAHAN FPI DALAM NAHI MUNKAR

FPI 
Sebagian orang ada yang mengatakan seperti ini.

"Seandainya FPI mendukung jokowi sy yakin seribu yakin gk akan dilarang karena dari jaman HABIBI sampe  SBY gk ada larangan"

Dan dalil jawaban saya ini udah saya posting dlu fb saya ini, tapi saya tidak menyebutkan nama FPI langsg, karna salah satu nya banyak teman² saya dsna dan juga ada sebagian guru saya...

FPI itu yg di larang bukan karna tidak mendukung presiden tapi karna banyak membuat kerusuhan dimana² apalagi dalam menjalan Nahi Munkar nya tidak sesuai aturan fiqih bahkan kadang suka bertindak tergesa-gesa dan tidak memikirkan dampak negatif nya..

Lanjut..!

Karna kemaren yg di bahas masalah Nahi Munkar nya maka saya akan uraikan terlebih dahulu dri sisi negara/bagaimana kewajiban kita ini bernegara..?

Coba smpyan pahami yg ada di dalam kitab
 قواعد الأحكام في مصالح الانام

ومنها اعانة القضاة والولاة وأئمة المسلمين على ما تولوه من القيام بتحصيل الرشاد ودفع الفساد وحفظ البلاد وتجنيد الأجناد ومنع المفسدين والمعاندين
Hak nya ummat islam diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan untuk mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa.

Fokus pada lafad ودفع الفساد وحفظ البلاد (menolak kerusakan dan menjaga negara)
FPI = Demo klau tiap hari dema demo terus otomatis negara ini tidak akan stabil klau tiap hari di demo..

Kedua masalah NAHI MUNKAR

Saya setiap diskusi sama teman² FPI pasti bilang NAHI MUNKAR Fardhuh A'in, tapi saya akan jawab Fardhuh Kifayah seperti yg di jelaskan dalam kitab روضة الطالبين

الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فرض كفاية بإجماع الأمة
Amar Ma'ruf Nahi Munkar Fardhuh kifayah berdasarkan kesepakatan para ulama..

Syarat Nahi Munkar adalah harus tidak menimbulkan kerusakan/kemunkaran yg lebih parah, sprti yg di jelaska  dalam kitab 
التشريع الجنائي الاسلامي

لان مشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام
Karna persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas negara....

Banyak orang yg sering makan mentah² sabda nya Rosululloh Saw.
اذا رأى منكم منكرا فليغيره بيده.. الخ

Maksud dari hadis di atas di jelaskan dalam kitab الغنية 
قسم يكون انكارهم باليد وهم الأ ئمة والسلاطين
Ingkar dgn memakai tangannya itu bagi para pemimpin
انكارهم باللسان دون اليد وهم العلماء
Ingkar dengan lisan bukan dgn tangan nya yaitu para Ulama (berdakwah kmna²/mengajari ilmu)
انكارهم بالقلب وهم  العامة
Ingkar dgn hati ini khusus masyarakat umum..

Ingat ini pendapat saya..!
Klau misal anda tidak sependapat monggo saya persilahkan, krna dgn perbedaan hidup ini akan indah..

0 komentar

"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]