---ISLAM NUSANTARA MERAWAT KEBHINEKAAN DI BUMI PAGUNTAKA---

30 April 2021

ZAKAT FITRAH NYA ORANG YANG BARU MASUK ISLAM


ZAKAT FITRAH NYA ORANG YG MASUK ISLAM DI MALAM HARI RAYA

بأدراك جزء من رمضان وجزء من شوال 
Orang yg yg di wajibkan menunaikan zakat fitrah harus ketemu dgn bulan romadhon dan juga bulan syawal..

Klau orang yg gak ketemu dengan bulan syawal maka tidak di wajibkan zakat fitrah..

Contoh : orang yg masuk islam di malam hari raya, maka tidak di wajibkan zakat fitrah, begitu juga dgn orang yg menikah di malam hari raya maka suami nya tidak di wajibkan untuk menunaikan zakat fitrah nya istri...

Sprti yg di terangkan dalam kitab التقريرةةالشديدة

فالوجوب نشأ من الصوم والفطر منه فلا تجب على ما يحدث بعد الغروب من نكاح واسلام وغنى بما يحدث بعده من نحو موت وطلاق ولو با ئتا

Penulis : Anam Az-Zaheery

0 komentar

Berkunjung ke FP nucare lazisnu tarakan
"Kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta. Namun kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. (Hati yang merasa cukup)." [HR Bukhari dan Muslim] “Kita lebih membutuhkan adab (Meskipun) sedikit, dibanding ilmu (Meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari] "Jangan tangisi agamamu jika ia masih dikuasai oleh ahlinya. Tangisilah jika ia dikuasai bukan oleh ahlinya." [HR Thabrani] "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nahl: 18] "Bila kau tahu setan tak pernah lupa kepadamu, janganlah kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu." [Syekh Ahmad ibn Atha'illah, dalam al-Hikam] “Jangan kamu merasa paling suci. Karena Dia-lah yang lebih mengetahui orang yang paling bertakwa,” [An-Najm: 32] "Sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sementara kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan." (Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama) “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang, lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” [Abu Hâmid al-Ghazâlî, Tahâfutul Falâsifah]